Di dunia ada zoo yang hanya menunjukkan haiwan. Ada pula zoo yang mengubah pengertian tentang apa yang seharusnya menjadi zoo. Zoo Negara Singapura termasuk dalam kategori kedua. Di sini, tiada pagar, tiada selangit beton, tiada rasa seperti Anda datang untuk melihat penahanan. Anda datang untuk menghadiri mereka yang hidup di dunia dengan hak pemilik. Anda berjalan di hutan tropikal, dan di atas kepala Anda, oling-oling bergerak, gibbons melompat di dahan, dan tiada yang dipisahkan dari Anda dengan dinding besi. Zoo ini menjadi standar yang diinginkan oleh semua lainnya, dan konsepnya, yang diciptakan masih di 1960-an, tetap revolusioner bahkan saat ini.
Sejarah Zoo Negara Singapura dimulai pada tahun 1968, ketika Ketua Pengurusan Perkhidmatan Masyarakat Singapura, Dr. Ong Siow Lu, memutuskan bahwa negara itu kekurangan tempat untuk rekreasi keluarga. Dia menilai bahwa bahkan haiwan rumah menjadi hal asing bagi warga Singapura, dan mengusulkan untuk menciptakan zoo yang akan berfungsi sebagai tempat rekreasi, pendidikan, dan pemeliharaan alam. Kepimpinan mendukung ide ini, menyediakan 9 juta dolar Singapura dan 260 ekar tanah di pinggir Tasik Selangor.
Pada tahun 1970, proyek ini diambil alih oleh konsultan dari Sri Lanka, Linna de Alwis, direktur zoo Dehiwala, dan konsultan botani A. G. Alfonso. Tugas mereka yang ambisius adalah untuk menciptakan zoo yang tidak seperti yang lain. Dan mereka berhasil. Pada 27 Juni 1973, zoo ini membuka pintu untuk pengunjung. Pada saat itu, ada sekitar 300 haiwan 70 jenis di dalamnya. Saat ini, di sini ada lebih dari 4,200 haiwan 315 jenis, 34% diantaranya berada di bawah ancaman pupus.
Inovasi utama Zoo Negara Singapura adalah konsep “zoo terbuka” (open concept). Lebih dari 80% eksposi di sini dirancang tanpa selangit tradisional. Daripada pagar, ada bantaran air, tumbuhan tebal, air taman buatan, dan batu. Haiwan hidup di velay yang luas, yang mendekati lingkungan alam asal mereka. Pengunjung tidak melihat haiwan melalui dahan — mereka mengamati mereka di dunia mereka, dipisahkan hanya dengan bantaran yang tak terlihat atau kaca.
Konsep ini dikembangkan sebelum zoo dibuka dan menjadi salah satu yang pertama di dunia. Zoo dirancang untuk membuat haiwan merasa bebas dan pengunjung mendekati alam liar sebaik mungkin. Lemur dan burung pavo dapat berjalan bebas di area. Ini bukan hanya “zoo tanpa selangit” — ini adalah filosofi yang di mana haiwan berhenti menjadi eksponat dan menjadi pemilik ruang mereka. Zoo itu sendiri adalah hutan tropikal yang besar, di mana jalur jatuh di dalam hijau, dan iklim lembab dan panas, seperti hutan yang sebenarnya. Pohon di sini bukan hanya hiasan — mereka bagian dari ekosistem. Oling-oling hidup di puncak pohon, gibbons bergerak di dahan, dan pengunjung mengamati mereka dari bawah, tanpa mengganggu kehidupan alam mereka.
Zoo Negara Singapura terkenal dengan koleksinya primata. Di sini terdapat salah satu eksposi oling-oling yang bergerak bebas terbaik di dunia. Program “Pagi dengan Oling-oling” (Breakfast with an Orang Utan), yang diluncurkan pada Mei 1982, menjadi salah satu yang paling populer dan inovatif di dunia. Pengunjung dapat mengamati primata yang menakjubkan ini dekat dekat, mengenali kebiasaan mereka, dan bahkan makan bersama mereka.
Selain oling-oling, di sini ada harimau putih, tapir Melayu, krokodil, oling-oling Sumatra, serta banyak jenis yang jarang dan berada di bawah ancaman pupus. Pada tahun 2007, terbuka velay baru untuk oling-oling Sumatra, serta velay yang diperbesar untuk tapir Melayu. Pada tahun 2013, muncul “Tundra yang Berhenti” — velay untuk beruang putih, yang meniru lingkungan arktik.
Zoo ini aktif terlibat dalam program pemeliharaan jenis yang berada di bawah ancaman pupus dan menjadi pusat penyelamat haiwan liar di Singapura. Di sini dilakukan riset ilmiah, program pendidikan, dan proyek internasional untuk pemeliharaan jenis yang jarang.
Salah satu kelebihan utama Zoo Negara Singapura adalah Safari Malam (Night Safari) — pertama di dunia zoo malam, yang dibuka pada tahun 1994. Ini bukan hanya ekspedisi di malam, tetapi penggabungan penuh ke dunia haiwan malam, yang aktif setelah matahari terbenam. Pengunjung dapat berlayar di trem dan melihat kuda gajah Asia, lembu, kucing leopard, dan banyak lagi haiwan yang bergerak bebas di malam.
Safari Malam menjadi ikon Singapura dan menarik turis dari seluruh dunia. Ini bukan hanya hiburan — ini kesempatan unik untuk melihat bagaimana haiwan hidup saat orang biasanya tidur. Ketinggian, suara hutan, dan cahaya lampu menimbulkan suasana petualangan yang sebenarnya.
Zoo Negara Singapura masuk ke dalam Kawasan Perlindungan Alam Liar “Mandai” (Mandai Wildlife Reserve) — kompleks yang besar yang mencakup lima taman. Selain zoo, di sini ada Safari Sungai (River Wonders) — satu-satunya taman di Asia yang berfokus pada sungai-sungai terbesar di dunia, dan Safari Malam. Di sini Anda dapat melihat ikan arapaima besar, itik, panda, dan bahkan berjalan di lubang kaca di bawah air.
Seluruh area “Mandai” mewakili ekosistem yang bersatu, di mana taman-taman disambungkan dengan jalur hijau dan ruang umum. Ini bukan hanya zoo, tetapi seluruh dunia alam liar di tengah kota besar.
Zoo Negara Singapura diakui sebagai salah satu terbaik di dunia. Dia diakui oleh European Association of Zoos and Aquariums (EAZA) dan Australasian Association of Zoos and Aquariums (ZAA). Setiap tahun, lebih dari 1,7 juta orang mengunjunginya.
Zoo ini terkenal dengan program-program inovatifnya, termasuk ekspedisi pendidikan, area untuk anak-anak, serta praktik tanggung jawab lingkungan dalam pengelolaan sumber air dan energi. Dia menjadi bukan hanya atraksi pariwisata, tetapi pusat penting untuk pemeliharaan jenis yang berada di bawah ancaman pupus.
Uniknya Zoo Negara Singapura terletak di filosofi nya. Dia tidak menunjukkan haiwan, dia menunjukkan dunia mereka. Dia tidak memisahkan manusia dari alam, dia menyatukan mereka. Konsep “zoo terbuka” nya menjadi contoh untuk diirikan, tetapi sedikit yang berhasil meniru dengan sukses yang sama.
Di sini, tiada rasa seperti Anda di penahanan. Di sini, Anda tamu di hutan tropikal yang milik bukan manusia, tetapi haiwan. Dan saat Anda berjalan di jalur, dan oling-oling bergerak di atas kepala Anda, Anda mengerti bahwa ini bukan hanya zoo. Ini ingatan tentang hal yang kita semua adalah bagian dari alam, bukan pemiliknya.
Zoo Negara Singapura bukan hanya tempat untuk berjalan. Ini adalah pelajaran. Pelajaran tentang bagaimana dan perlu hidup bersama alam liar, tanpa merusaknya. Dan mungkin karena itu, ia tetap menjadi salah satu zoo yang paling disukai di dunia — bukan hanya untuk haiwan, tetapi untuk orang yang datang ke sini untuk melihat bahwa dunia tanpa selangit mungkin.
New publications: |
Popular with readers: |
News from other countries: |
![]() |
Editorial Contacts |
About · News · For Advertisers |
Digital Library of Asia ® All rights reserved.
2024-2026, ELIB.ASIA is a part of Libmonster, international library network (open map) Preserving Asia's heritage |
US-Great Britain
Sweden
Serbia
Russia
Belarus
Ukraine
Kazakhstan
Moldova
Tajikistan
Estonia
Russia-2
Belarus-2