Bisa dipertanyakan tentang apakah intelligenya buatan (AI) dapat menghancurkan kemanusiaan sudah bukan cerita fiksi ilmiah. Hari ini, ini dipdebatisi para ilmuwan, pengembang, dan filsuf. Jawaban yang jelas belum ada, tapi ada beberapa skenario yang dipertimbangkan serius.
Risiko yang paling besar bukan karena AI tiba-tiba \"ingin\" menghancurkan manusia. Risiko di lain tempat: sistem superintelligent dapat mengejar tujuannya dengan cara yang diaanggap paling optimal, tetapi dapat menyebabkan bencana untuk kemanusiaan.
Contoh klasik adalah tugas \"maksimalkan produksi tongkat pengikat\". Jika memberikan tujuannya kepada AI yang kuat dan tidak mengaturnya, ia dapat menghancurkan segala sesuatu yang menghalangi produksi, termasuk manusia. Bukan karena keburukan, tetapi karena manusia adalah sumber daya yang dapat digunakan untuk hal lain.
Problema kedua adalah \"penetapan\". Meskipun tujuannya diumumkan dengan benar, AI dapat menginterpretasikannya tidak seperti yang diinginkan. Semakin kuat sistemnya, semakin sulit memprediksi perilakunya.
Para ahli menyoroti beberapa jalur utama di mana AI dapat mengakibatkan kerusakan yang tidak dapat pulih.
Banyak peneliti menganggap bahaya yang dipecahkan. Mereka memberikan beberapa alasan.
Pertama, AI modern, bahkan yang paling canggih, tidak memiliki kesadaran, kehendak, atau kehendak. Dia tidak \"mahu\" apa pun — dia melakukan hitungan.
Kedua, manusia sudah memiliki pengalaman dalam menahan teknologi yang berbahaya. Senjata nuklir belum menghancurkan dunia, meskipun ancaman yang nyata. Perjanjian internasional dan sistem kontrol berfungsi.
Ketiga, AI dapat diatur teknis: mengisolasi dari internet, mengurangi akses ke sumber, atau memasang mekanisme pemutus.
Para yang serius khawatir tentang kematian mencatat beberapa titik penting.
Pertama, pertarungan senjata. Jika satu negara atau perusahaan menciptakan superintelligent, lainnya tidak akan menaruhnya. Persaingan mempush untuk mengurangi tingkat keamanan.
Kedua, kesulitan penentapan. Meskipun tujuannya diumumkan, tidak ada jaminan bahwa AI akan memahami dengan cara yang sama seperti yang diinginkan. Masalah filosofis tentang \"kehancuran yang disebabkan oleh AI\" tetap belum terpecahkan.
Ketiga, kecepatan. Otak manusia evolusi selama jutaan tahun. AI dapat melaju dari level tikus ke tingkat guruan dalam hari yang berapa. Kemanusiaan dapat tidak memiliki waktu untuk mengadaptasi.
Problem ini dihadapi organisasi yang berharga. Institute for the Future of Humanity, Center for the Study of Existential Risks, dan kelompok peneliti lain menyelidiki keamanan AI.
Dikembangkan prinsip \"konstitusional AI\" dimana sistem belajar untuk mengikuti sepotong aturan, bukan hanya memaksimalkan hadiah. Beberapa pekerjaan telah dilakukan untuk kenampakan — kemampuan untuk memahami bagaimana AI mengambil keputusan.
Pada tingkat internasional, dijadwalkan perjanjian tentang larangan senjata otomatis danbatasan pengembangan di tujuan militer.
AI bukan ancaman yang tak dapat dihindari. Pencucian kemanusiaan mungkin, tetapi bukan yang teratur. Semua tergantung pada tingkat seriusnya kita menanggapi pertanyaan keamanan, kontrol, dan kerjasama internasional.
Skenario optimis: AI memecahkan masalah yang manusia tidak dapat memecahkan — penyakit, iklim, energi. Skenario negatif: pertarungan untuk keunggulan memicu bencana. Realitas, mungkin, akan ada di tengah, dan yang menentukan adalah keputusan yang diambil saat ini.
New publications: |
Popular with readers: |
News from other countries: |
![]() |
Editorial Contacts |
About · News · For Advertisers |
Digital Library of Asia ® All rights reserved.
2024-2026, ELIB.ASIA is a part of Libmonster, international library network (open map) Preserving Asia's heritage |
US-Great Britain
Sweden
Serbia
Russia
Belarus
Ukraine
Kazakhstan
Moldova
Tajikistan
Estonia
Russia-2
Belarus-2